Teknologi Informasi adalah kebutuhan yang tidak boleh tidak pada
akhirnya harus diadakan oleh rumah sakit untuk pengiriman informasi pasien di
rumah sakit. Seiring makin rumitnya pengiriman informasi yang harus
dikirimkan. Perawat sebagai pemberi jasa perawatan dan pasien
sebagai penerima saling bergantung dalam kebutuhan informasi ini. Berbagai
peralatan dapat digunakan untuk memudahkannya. Semua hal di atas dapat
meningkatkan mutu asuhan dan mendorong patient safetymenuju
kepuasan pelayanan.
Keselamatan dan keamanan merupakan kebutuhan dasar manusia menurut
hirarki Maslow. Keselamatan juga merupakan hal yang sangat penting dalam setiap
pelayanan kesehatan, sehingga dapat dikatakan bahwa keselamatan merupakan
tanggung jawab dari pemberi jasa pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan
terutama pelayanan keperawatan di setiap unit perawatan baik akut maupun
lanjutan harus berfokus pada keselamatan pasien baik dalam tatanan rumah sakit,
komunitas maupun perawatan di rumah (Taylor, 1997).
Globalisasi pada akhirnya juga melanda Indonesia, berbagai
kemajuan teknologi juga datang ke Indonesia. Teknologi komputer juga kemudian
mulai merambah teknologi informasi di rumah sakit. Sumberdaya manusianya juga
perlu untuk dapat beradaptasi, sehingga mampu menggunakan teknologi untuk
mengambil data, menyimpan dan atau mengirimkannya. Data yang dikirimkan harus
terpadu karena kompleksnya data yang dimasukkan, sehingga menjadi lebih efisien
dan dapat diterima. Data terpadu adalah data yang relevan yang dapat digunakan
orang lain untuk memecahkan masalah pasien (Gillies, 1996).
Data terpadu yang rumit, dapat disederhanakan dengan otomatisasi,
sehingga mudah pengisiannya, diakses, dibaca, dimengerti dan disimpan serta
dikirimkan. Program terbaru komputer ini sekarang juga dapat dipadukan dengan
berbagai gadgetatau peralatan tambahan yang memungkinkan pengiriman
informasi lebih akurat, cepat dan menjamin mutu.
Penyimpanan, editing dan sistem yang akurat
memungkinkan data dapat dikategorikan bermutu. Data yang bermutu akan membuat
tindakan yang dilakukan dalam asuhan keperawatan juga bermutu. Dampak ikutannya
kemudian adalah asuhan yang bermutu yang menjamin patient
safety. Apabila patient safety terlaksana sangat memungkinkan
terjadinya kepuasan pasien. Meskipun perawat tidak dapat menjamin, bahwa asuhan
bermutu pasti membawa pasien selamat dari sakitnya, yang berarti tidak mungkin
mati.
BERBAGAI GADGET DAN SOFTWARE YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM TEKNOLOGI
INFORMASI KESEHATAN
1. StavroX
Sebuah software yang dapat digunakan untuk menganalisis secara
lebih akurat interaksi protein dalam saluran pencernaan.(Goetze, 2010) Software
ini dimasukkan dalam spectrometer.
2. DigiSwitch
Alat yang dipakai untuk memasukkan data kesehatan pada manula yang
dipasang di rumah yang dapat memenuhi kebutuhan privasi pasien untuk menjaga
kerahasiaannya (Caine, 2010). Alat ini bisa menjadi pengumpul data yang akurat
selama pasien dirawat, yang memerlukan jangka waktu lama. Perawat bisa datang
sewaktu diperlukan, apabila ada pengiriman informasi mengenai keadaan emergensi
atau memerlukan pertolongan perawat.
3. Computer Clinical Decision Support
Systems(CDSSs)
Informasi teknologi juga dapat dipadukan dengan software yang
dapat menganalisa terapi insulin secara intensif. Pada saat pelaksaan pemberian
terapi sebagai alat monitoring pemberiannya sehingga lebih akurat (Campion,
2011). Teknologi ini memungkinkan tidak terjadinya kesalahan setelah atau
akibat terlambatnya pemberian insulin yang dapat berkibat shock
hipo/hiperglikemik.
4. Unit Monitor Acute Post
Surgical
Alat yang dipakai untuk memonitor pasien setelah menjalani operasi
sangat penting untuk memastikan keadaan. Perawat perlu perlu mengadopsi
kemampuan agar dapat menggunakan alat ini, sehingga kondisi aktual pasien dapat
dipastikan. Bila kondsi aktual dapat dipastikan, maka tindakan yang
dilakukan akan sesuai dengan yang dibutuhkan (Jeskey, 2011).
5. Personal
Electronic Health Records
PEHR ini adalah alat yang lebih universal, karena digunakan oleh
semua usia dan dapat menjamin mutu, kelangsungan dan kewajaran data yang
didapatkan (Roberts, 2009).
6. Electronic
Personal Health Record
Teknologi informasi yang digunakan untuk menjamin terkumpulnya
data yang dapat dipakai sebagai referensi ketika diperlukan. Data diperlukan
untuk follow up kasus atau penelitian, bisa juga dikatakan sebagai bagian data
dari sebuah kepustakaan. Data untuk rumah sakit dalm perhitungan statistik dan
juga untuk asuransi kesehatan. Data ini bisa juga diakses oleh yang
bersangkutan untuk mengetahui keadaan dirinya. Data ini bisa diakses oleh orang
lain, tetapi dengan tanpa identitas (Jones, 2010).
7. Telenursing
Sistem ini telah dilaksanakan di negara maju, tetapi masih
dilaksanakan di negara berkembang. Sistem ini menggunakan perangkat komputer
berhubungan (jaringan) menggunakan teknologi internet. Teknologi ini dapat
menjangkau wilayah yang luas, terpencil, orang miskin, pinggiran dan warga
masyarakat yang tidak mempunyai asuransi. Telenursing dapat dikembangkan
menjadi berbagai fungsi, di antaranya :
1. Konsultasi Pasien
Data yang didapatkan dari pasien di rumah yang dikirimkan ke rumah
sakit atau sentral pelayanan keperawatan direaksi. Reaksinya
adalah dengan Nursing Education atau tindakan segera oleh keluarga
atau perawat setelah datang ke rumah pasien.
2. Remote Monitoring
Hal ini memungkinkan perawat berkurang melakukan secara
tradisional di sisi pasien terus menerus. Tindakan tertentu dapat dilakukan
secara online misalnya mengubah tetesan infus dengan pengatur infus elektronik
yang dihubungkan dengan internet.
Berbagai gadget dan software keperawatan dan kesehatan di atas
sebagai yang paling baru dan belum dipakai, karena masih wacana adalah virtual
telenursing (Garner, 2010). Teknologi ini hanya menyempurnakan telenursing yang
sudah ada dengan sistem teleconference, tetapi ditambahkan teknologi
virtual. Monitor yang semula menggunakan layar tabung atau lcd,
diganti layar proyeksi atau hologram.
Berbagai cara di atas semuanya adalah untuk menunjang
dalam mendapatkan dan mengirimkan data yang diperlukan dalam Sistem
Informasi Keperawatan (SIK) atau Nursing Information Sistem (NIS) sebagai bagian
dari Sistem Informasi Manajemen (SIM) (Gillies, 1996).
Kemajuan sistem informasi ini menunjang kebutuhan pasien akan mutu
keperawatan. Perpaduan kemajuan teknologi dan kemampuan skill keperawatan akan
menentukan hasilnya. Adaptasi dan adopsi perawat akan teknologi juga penting
untuk dijalani.
Tujuannya adalah :
1. Membuat standar praktik, ukuran
safety, pengaturan praktik sebagai jalan keluar dalam dokumentasi menggunakan
komputer.
2. Menyediakan sarana
dokumentasi yang valid dalam keperawatan
3. Semua perawat mempunyai
keterampilan dalam teknologi ini.
4. Otomatisasi dalam dokumentasi
asuhan keperawatan (St Joseph Health, 2009).
Menurut penelitian di Inggris setelah data kesehatan disatukan
dalam data nasional ternyata reaksi dan tindakan petugas sangat lambat
(Robertson, 2010). Hal di atas ditunjang dengan kemampuan masyarakat
untuk mengakses juga lemah, mungkin mereka belum merasa
memerlukan, kecuali saat sakit baru mereka menyadarinya. Kemampuan
mereka untuk mengakses bagus, tetapi isi yang berhubungan dengan data kesehatan
memerlukan penjelasan dari petugas (Piper, 2004). Hal ini berarti sosialisasi
dan desiminasi sangat diperlukan.
Teknologi ini praktis untuk digunakan, tetapi teknologi baru yang
berbasis barang impor dan terbatas dari sisi jumlah. Membuat biaya investasi
yang dikeluarkan sangat besar, disamping itu
memerlukan update dan upgrade. Hal ini terjadi karena
teknologi, soft ware maupun hard ware-nya selalu berkembang
mengikuti penemuan baru yang ada.
Jadii …
Teknologi yang digunakan sangat
menunjang dokumentasi informasi data yang
dihasilkan. Analisa yang valid dapat memungkinkan tindakan yang
tepat dalam melakukan asuhan keperawatan.
Teknologi yang digunakan diperlukan didampingi oleh petugas yang
mumpuni dalam keterampilan menggunakan teknologi komputer.
Ketepatan tindakan dan data menunjang mutu asuhan keperawatan yag
pada akhirnya akan pada berdampak safety berujung pada kepuasan
pasien.
Karena penggunaan teknologi internet, ada perubahan budaya lama
perawat berada di samping pasien ketika melakukan asuhan. Perawat cukup menekan
tombol, memutar data untuk pendidikan kesehatan atau tayangan langsung untuk
mengajari keluarga melakukan suatu tindakan.
Sosialisasi, latihan dan desiminasi penting untuk dilakukan agar
petugas dapat beradaptasi dan mengadopsi , baik cara maupun informasi yang
diterima. Hal ini untuk menghindari malpraktik dan maleficience.
Teknologi yang membutuhkan investasi yang mahal membuat sulit
untuk dilaksanakan, tetapi memungkinkan dari sisi potensi dan sumber daya..
Pelaksanaannya dapat dilaksanakan dengan melakukan kerjasama untuk menghemat
biaya atau dengan mencari sponsor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar